TANJABBAR, tintaindonesia.my.id
Polemik yang melibatkan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Tanjung Jabung Barat(Tanjabbar), Kadiman, dengan seorang wartawan lokal yang bernama Adi, terus berkembang dan menjadi sorotan publik. Terbaru, mencuat dugaan bahwa Kepala Sekolah Kadiman mencoba meredam permasalahan tersebut dengan meminta bantuan dari salah seorang oknum wartawan di Tanjung Jabung Barat.
Informasi ini diperoleh awak media dari seorang anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang enggan disebutkan namanya. Ia menyebutkan bahwa Kadiman telah menjalin komunikasi dengan salah satu wartawan senior di daerah tersebut dalam upaya untuk menyelesaikan/membendung gencarnya pemberitaan yang terbit di media tintaindonesia.my.id.
Menurut keterangan sumber tersebut, konflik yang terjadi antara Kadiman dan wartawan yang diketahui bernama Adi, disebut-sebut telah “diselesaikan” secara informal oleh wartawan yang dimintai bantuan. Namun, klaim ini segera dibantah oleh wartawan Adi sendiri, yang menegaskan bahwa dirinya tetap akan melanjutkan proses pemberitaan dan tidak menutup kemungkinan melanjutkan pelaporan terkait masalah tersebut ke pihak berwenang.
“Saya menghargai upaya mediasi, namun ini menyangkut integritas dan kebebasan pers. Apa yang saya beritakan selama ini berdasarkan data yang kami peroleh dari berbagai sumber dan dalam melakukan penulisan berita, kami selalu menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dengan menyodorkan terlebih dahulu terkait apa yang kami tulis guna meminta pihak yang bersangkutan untuk mengoreksinya jika terdapat kesalahan dalam penulisan berita. Adapun berita yang sudah beredar luas bukan untuk kepentingan pribadi, tapi demi transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sekaligus menghapus pungutan liar yang jelas-jelas telah membebani wali murid,” tegas Adi saat dikonfirmasi.
Permasalahan ini diduga bermula dari pemberitaan kritis yang gencar dilakukan oleh Adi terkait sejumlah kebijakan dan dugaan penyimpangan di lingkungan SMA Negeri 1 Tanjabbar. Berita-berita tersebut, yang telah beredar luas di media lokal dan media sosial, memantik reaksi keras dari pihak sekolah.
Upaya untuk meredam isu melalui jalur nonformal justru menuai sorotan, mengingat hal ini berpotensi mengancam kebebasan pers serta memperkeruh suasana. Beberapa pihak menilai tindakan tersebut mencerminkan ketidaksiapan dalam menghadapi kritik publik dan mencederai prinsip keterbukaan informasi.
Dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp. Kadiman, yang dalam hal ini selaku kepala sekolah SMA Negeri 1 Tanjabbar, membantahkan informasi tersebut.
“Terkait hal ini….saya tidak pernah untuk menyampaikan dan saya tidak merasa punya masalah dengn pak Om(wartawan Adi -red.) artinya berita itu yang didapat pak tidak benar….”, jawab Kadiman melalui pesan singkat WhatsApp (Selasa, 17 Juni 2025)
Saat awak media mempertegas bahwa informasi terkait penyampaian Kadiman meminta bantuan dari salah seorang wartawan di dapat dari salah seorang LSM yang berinisial YB, Kadiman bungkam dan tak bisa berdalih lagi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan dari wartawan yang disebut-sebut ikut terlibat dalam upaya mediasi tersebut. Sementara itu, pihak LSM yang menjadi narasumber juga berharap agar masalah ini dapat diselesaikan secara profesional dan tidak menjadi preseden buruk bagi relasi antara insan pers dan institusi pendidikan.
Perkembangan kasus ini akan terus dipantau oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Perkumpulan Tertib dan Bangkit Jambi, mengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara kontrol sosial yang dilakukan media dan upaya klarifikasi dari pihak-pihak yang diberitakan.
Pewarta : Redaksi













