TANJABBAR , tintaindonesia.my.id
Kegiatan pengadaan laptop dengan nilai fantastis mencapai Rp2.679.600.000 dari dinas pendidikan kabupaten Tanjabbar Jabung Barat (Tanjabbar) pada tahun 2025 tengah menjadi sorotan. Proyek yang tercatat dalam portal resmi Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) ini mencantumkan rencana pembelian 435 unit laptop dengan harga per unit yang disebut-sebut dua kali lipat dari harga pasaran.
Tak hanya soal harga, sorotan juga tertuju pada spesifikasi teknis laptop yang dinilai jauh dari standar kebutuhan pendidikan di era digital saat ini. Dalam keterangan di portal pengadaan tersebut, laptop yang akan dibeli hanya dibekali RAM DDR4 dan kapasitas penyimpanan 32GB, sebuah spesifikasi yang dipertanyakan kelayakannya untuk menunjang proses pembelajaran di tahun 2025, terlebih dengan perkembangan aplikasi dan sistem pendidikan berbasis digital yang semakin kompleks.
“Apakah spesifikasi seperti ini masih layak digunakan di dunia pendidikan sekarang?” tanya salah satu pengamat teknologi pendidikan yang tak ingin disebutkan namanya. (Jum’at, 11 Juli 2025)
Lebih lanjut beliau mempertanyakan terkait kelayakan kajian tersebut.
“Dan apakah pengadaan ini sudah melalui kajian teknologi terkini? Ini menyangkut masa depan peserta didik kita.”pungkasnya.
Lebih mencurigakan lagi, saat tim awak media mencoba mengonfirmasi hal ini kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Junaidi, tidak ada satu pun pernyataan resmi yang diberikan. Meskipun telah dihubungi beberapa kali, baik melalui telepon maupun pesan singkat WhatsApp, PPK memilih bungkam.
Sikap tertutup dari pihak terkait justru memperkuat dugaan publik akan adanya kejanggalan dalam proses pengadaan ini. Di tengah semangat transparansi dan efisiensi penggunaan anggaran negara, diamnya pejabat publik dalam menjawab pertanyaan yang menyangkut dana miliaran rupiah tentu menjadi alarm bagi aparat pengawas dan masyarakat luas.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang belum memberikan klarifikasi resmi. Masyarakat berharap ada audit terbuka terhadap kegiatan ini, agar anggaran pendidikan benar-benar digunakan untuk mendukung kualitas pembelajaran, bukan sekadar memenuhi angka di atas kertas.
Pewarta: Adi













