Tinta Indonesia
banner 728x250

20 Tahun Mengabdi, Dinding Rumah Dinas Ditambal Dengan Seng Bekas

TANJABBAR, tintaindonesia.my.id
Miris!, Tiga tahun berturut turut SD negeri 049 (dulunya SDN 051-red.) yang berlokasi di kecamatan Merlung, kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) mendapatkan bantuan rehab/pembangunan fisik yang bersumber dari dana APBD. Namun sangat disayangkan, kondisi rumah dinas yang kelihatan sudah reok terlewat kan dari perhatian para pemangku jabatan di dinas pendidikan. Yang mengherankan lagi tahun ini sekolah tersebut mendapatkan kegiatan pembangunan ruang kelas baru dan laboratorium komputer.

Ditemui di lingkungan sekolah, sejumlah guru menyampaikan bahwa rumah dinas yang ada di sekolah tersebut sama sekali belum tersentuh oleh pembangunan

“Kurang lebih sudah 20 tahun saya mengabdi di sekolah ini, rumah dinas yang saya tempati kondisinya sudah sangat memprihatikan, beberapa kali saya lakukan tambal sulam dari sisa-sisa material bekas pembangunan/rehab sekolah ini di tahun-tahun yang lalu. Kalau tidak saya lakukan tambal sulam, barang barang di rumah saya sering hilang pak. Saya berterima kalau bapak mau memperhatikan nasib para guru. Cobak lah sesekali para petinggi-petinggi yang duduk dinas pendidikan kabupaten itu memperhatikan kesejahteraan kami. Dulu saya pernah dengar, guru semenjak dapat tunjangan TPP harus beli rumah, Bukannya kami tidak mau bersyukur pak, tetapi sudah menjadi rahasia umum dan bapak mungkin lebih tau, untuk membeli rumah gaji sudah dak ada(SK sudah di gadai ke bank-red.) nak ngandalkan TPP, TPP tu tuk makan/kebutuhan sehari-hari”, terang salah seorang tenaga pendidik dengan wajah penuh harap, Rabu (16/7/2025)

Hal senada juga disampaikan salah seorang pengajar yang terpaksa mengontrak rumah dikarenakan rumah dinas yang ada sudah hampir roboh.

“Saya ngontrak rumah di luar, per bulannya Rp. 750.000. bapak faham lah berapa pendapatan dari seorang guru yang baru lulus PPPK. semoga dengan adanya pemberitaan ini pihak dinas bisa tergerak hatinya untuk segera merehab rumah dinas yang hampir roboh itu”, ujar salah seorang guru muda.

Dari pengalaman penulis yang berkecimpung di dunia komputer puluhan tahun lamanya, yang namanya laboratorium komputer itu di butuhkan jika pihak sekolah memiliki PC (Personal Computers) dalam jumlah yang banyak, kalau lah hanya sebatas laptop/chromebook dirasa penyimpanan lebih aman di dalam kotak lalu di simpan di dalam lemari dan dikeluarkan saat di butuhkan/dipergunakan.

Sekitar 3 tahun yang lalu penulis pernah mempertanyakan kepada kepala dinas (kadis) pendidikan dan kebudayaan (Dikbud) kabupaten Tanjabbar dan Kabid Dikdas terkait persoalan mengapa pembangunan/rehab di lingkungan sekolah dinilai kurang merata?(Ada sekolah yg setiap tahun nya selalu mendapatkan bantuan pembangunan/rehab, di lain sisi, ada sekolah yang jelas-jelas membutuhkan pembangunan/rehab dan bahkan sekolah tersebut sudah berkali-kali mengajukan proposal ke dinas Namum tidak mendapatkan respon oleh dinas)

Pada kesempatan itu kadis menjawab “keterbatasan SDM di dinas” dan Kabid Dikdas menjawab”tidak update nya data dapodik oleh pihak sekolah”

Pembangunan laboratorium komputer tanpa perencanaan yang matang dinilai kurang tepat sasaran. Yang di butuhkan saat ini adalah perbaikan fasilitas yang berdaya tepat guna serta memiliki mamfaat yang sebesar-besarnya.

Pewarta: Adi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *