TANJABBAR, tintaindonesia.my.id
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA N) 1 Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), yang berlokasi di Jl. Jend. Sudirman No. 172, kecamatan Tungkal Ilir, diketahui menghabiskan dana cukup besar untuk pengembangan perpustakaan, namun tidak diikuti dengan peningkatan kenyamanan siswa dalam penggunaan buku paket. Tentu saja hal ini memunculkan pertanyaan tentang prioritas anggaran sekolah dan bagaimana dana tersebut digunakan.
Dugaan inefisiensi pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di Sekolah tersebut juga patut dipertanyakan. Sebab, bagaimana sekolah mengelola dana pengembangan perpustakaan yang cukup besar, namun dalam proses belajar mengajar siswa harus berbagi buku paket dengan teman-temannya,
Apakah prioritas anggaran sekolah lebih fokus pada kegiatan pengembangan perpustakaan daripada kebutuhan dasar siswa, seperti buku paket yang memadai?
Diketahui, jumlah penerima dana BOS di tahun 2024 sebanyak 923 siswa dengan besaran dana yang diterima oleh sekolah sebesar Rp. 1.559.870.000.
Adapun dalam kategori kegiatan “Pengembangan Perpustakaan”,di tahun 2024, pihak sekolah menghabiskan dana sebesar Rp. 249.847.600. namun besarnya dana yang di habiskan oleh pihak sekolah tak sebanding dengan rasio penggunaan 1 buku untuk 1 murid. Hal ini tercetus dari salah seorang murid yang mengatakan bahwa dalam proses belajar mengajar mereka masih menggunakan 1 buku untuk 2 murid.
“Ketika proses belajar mengajar akan berlangsung, kami ke perpustakaan terlebih dahulu, guna meminjam buku paket yang akan kami pakai nanti nya. 1 buku paket digunakan berdua dengan teman dan yang boleh meminjam buku di perpustakaan hanya murid yang memiliki kartu perpustakaan”, ujara salah seorang murid yang masih duduk di bangku kelas X SMAN 1 Tanjabbar.
Dampak keterbatasan buku paket pada proses belajar mengajar, bisa mengakibatkan ketergantungan murid dalam menimba ilmu di sekolah hanya berfokus pada guru. Siswa menjadi lebih bergantung pada guru untuk mendapatkan informasi/serapan ilmu, sehingga dapat membatasi kemampuan mereka untuk belajar mandiri dan sudah pasti dalam mengerjakan tugas di rumah (Pekerjaan Rumah/PR) murid-murid akan meras kesulitan. Hal ini dapat mempengaruhi nilai akademik mereka nantinya.
Dikonfirmasi di ruang kerjanya terkait besarnya dana yang dikeluarkan oleh sekolah dalam kegiatan “pengembangan perpustakaan” serta apa-apa saja yang dikerjakan dan dibelanjakan oleh pihak sekolah. Kadiman, yang dalam hal ini selaku Kepala sekolah SMAN 1 Tanjabbar, memberikan penjelasan yang sedikit membingungkan awak media.
“Terkait dalam pengembangan perpustakaan itu, dia, ee, intinya adalah pengembangan sarana , itu, pengembangan sarana ,yang pertama, ada Pengembangan Sarana terkait kelengkapan daripada eee perlengkapan dari perpustakaan sendiri tapi juga pengembangan itu ada juga yang lalu usulan dari perpustakaan sendiri dan ada juga kelengkapan itu yang di ambil dari kegiatan operasional sekolah, salah satunya pengembangan perpustakaan itu aaa contoh nya rak yang rusak, rak buku dan meja dan peralatan yang lain itu pengembangan perpustakaan yang satu dari alat alat yang diberikan dan diusulkan dari perpustakaan sendiri, karena setiap tahunnya bahwa penggunaan dana bos itu terkait daripada pengusulan penanggung jawab masing-masing, contoh nya kepala perpustakaan Ya banyak yang di usulkan tapi lihat dulu kemampuan daripada pendanaan dana BOS , karena sumber dana bos nya, sumber keuangan sekolah yang artinya mengikat itu satu nya kan bantuan operasional sekolah, dan keduanya adalah pengembangan dari buku,dan itu juga terkait dari usulan pengelola perpustakaan , artinya buku apa yang kurang. Jadi intinya ketika sekolah tidak mampu memenuhi permintaan dari pengelola perpustakaan ya beguyur(dicicil – red.). Tapi seminimal mungkin di usahakan dalam per kelas itu 1 buku untuk 2 murid. Nanti kedepan nya kalau bisa 1 buku itu 1 anak untuk dilengkapi “,jelas Kadiman pada Sabtu, 26 April 2025.
Saat disinggung/dibandingkan dengan sekolah yang berada di kota besar dan memiliki murid yang lebih banyak, namun mampu memenuhi rasio penggunaan 1 buku untuk 1, bahkan di sekolah tersebut mampu memberikan/meminjamkan sebanyak 12 buku paket selama 1 semester untuk di bawa pulang ke rumah. Kadiman berkilah bahwa ketidak mampuan pihak SMAN 1 Tanjabbar untuk melaksanakan apa yang lakukan sekolah yang berada di kota besar itu dikarenakan oleh biaya yang tidak cukup.
“Karena terkait kepada ketercukupan biaya, jadi kalau seandainya mau seperti yang di katakan tadi(sekolah yang berada di kota besar – red.)itu mungkin mencapai maksimal dalam belanja bukunya”, pungkasnya.
Perlu diketahui bersama dalam kegiatan ” pengembangan perpustakaan”. Menurut Permendikbud Nomor 8 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana BOS. Alokasi dana BOS untuk pembelian buku pelajaran dan sumber belajar lainnya maksimal 20% dari total dana BOS yang diterima sekolah.
Jika pihak SMAN 1 melaksanakan Permendikbud di atas. Maka, jumlah dana BOS yang diterima oleh sekolah di tahun 2024 sebesar Rp. 1.559.870.000 x 20% , hasil di peroleh adala Rp. 311.974.000 untuk pembelian buku.
Reporter: Adi













