TANJABBAR – tintaindonesia.my.id
Permasalahan administratif kembali mencuat di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal setelah terungkap bahwa perbaikan kebocoran Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dilakukan menggunakan dana pribadi. Fakta ini disampaikan langsung oleh salah seorang kepala seksi penunjang non medis, tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai sistem pengelolaan anggaran di rumah sakit milik pemerintah tersebut.
Kebocoran IPAL bukanlah persoalan sepele. Limbah medis yang tidak terolah dengan baik dapat mencemari lingkungan sekitar, mengancam kesehatan masyarakat, dan merusak ekosistem air. Idealnya, setiap kerusakan fasilitas penting seperti IPAL harus ditangani secara profesional dan terencana melalui anggaran resmi, bukan inisiatif pribadi yang rawan melanggar standar keselamatan dan akuntabilitas.
Kepala Bidang Kesehatan Lingkungan (Kesling) RSUD Daud Arif, Fuad, ketika ditemui di ruang kerjanya pada Senin (23 Juni 2025), membenarkan adanya insiden kebocoran tersebut. Ia bahkan meminta kasi penunjang non medis untuk menjelaskan langsung kronologi dan penanganan awal kebocoran.
Dipertanyakan terkait kapan pihak RS daud Arif terakhir kali melakukan perbaikan Ipal? Kasi penunjang non medis menjelaskan panjang lebar hingga muncul perkataan bahwa dalam penanggulangan kebocoran Ipal yang kemarin kami menggunakan dana pribadi.
“Di kesling itu ada incenerator, ada TPS(tempat penampungan sementara) ada ipal, kita biasa nya rutin melakukan pemeliharaan setiap tahunnya, andaikata pagu kita tidak mencukupi kita akan memilih mana Pemeliharaan yang urgent(mendesak), jadi selama ini Ipal kita kondisinya baik, di awal tahun kemarin kita sudah menganggarkan dana pemeliharaan Ipal namun di karenakan adanya efesiensi maka kita alihkan dulu mana yang urgensi dan mana yang tidak urgensi, jadi untuk Ipal kita delete (hapus -red.) awalnya, tapi ini kita cobak masukin lagi (penganggarannya -red.) , kemarin itu kan ada kebocoran dengan Ipal kita ya pak. Di situ kami lakukan penanggulangan awal dengan cara memberikan pengeleman plastik steel dengan menggunakan dana pribadi terlebih dahulu guna menanggulangi antisipasi kebocoran tersebut “, jelas nya (Senin, 23 Juni 2025).
Ketika awak media meminta kasi untuk memperjelas terkait maksud dari dana pribadi tersebut dana siapa?, kasi mengatakan bahwa untuk dana yang kecil kita talangi terlebih dahulu.
“Owh itu maksud nya , kalau dana tidak terlalu banyak, hanya beli plastik steel itu kita dengan sukarela sih, kalau yang tidak pakai jutaan , cuma sekedar puluh puluhan ribu kita biasanya bisa sumbangan aja pak, bisa dana dari kain(kepala instansi), jadi kalau hanya kebocoran-kebocoran kecil seperti ini, kita usahakan seperti itu “pungkas kasi penunjang non medis.
Penggunaan dana pribadi dalam menangani fasilitas vital negara menimbulkan tanda tanya besar. Apakah ini mencerminkan lemahnya perencanaan anggaran atau minimnya respon cepat direktur terhadap situasi darurat lingkungan?
Kebocoran IPAL tidak bisa dianggap remeh. Air limbah yang bocor bisa mencemari tanah dan sumber air, menyebarkan patogen berbahaya, dan berdampak langsung pada kesehatan warga sekitar serta petugas medis sendiri. Jika tidak segera ditangani oleh tenaga profesional dengan prosedur yang sesuai, risiko penyebaran penyakit infeksius sangat tinggi.
Dengan fakta ini, penulis patut mempertanyakan transparansi dan efektivitas pengelolaan keuangan di RSUD Daud Arif. Penanganan limbah medis seharusnya menjadi prioritas, bukan dikesampingkan hingga harus ditambal dengan “dana pribadi” dan solusi sementara.
Pewarta: Adi













